Adab Bertetangga
![]() |
| Sumber Foto : Tirto.id |
Dalam kitab Taisirul Kholaq Fii Ilmi Akhlaq karya Hafidz Hasan Al-Mas’udi dijelaskan bahwa tetangga diartikan sebagai orang yang berdekatan dengan kita yang berjumlah empat puluh rumah dari berbagai penjuru, baik depan, belakang, kanan dan kiri rumah kita.
Bahkan tetangga itu lebih mengetahui keadaan kita dan orang yang pertama kali menolong kita dibanding keluarga kita sendiri yang rumahnya jauh dengan rumah kita ketika terjadi suatu musibah yang menimpa diri kita sendiri maupun anggota keluarga kita.
Oleh karena itu, Rasulullah SAW memerintahkan kita semua untuk memuliakan tetangga :
“Barang siapa yang
beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaknya memuliakan tetangganya.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Di antara adab-adab
tetangga yang harus kita penuhi menurut kitab Taysirul Kholaq, antara lain:
1. Memulai salam dan bermuka manis (an tabda’ahu bissalaam)
Mengucap salam adalah
adab bertetangga yang pertama kali. Karena salam sendiri merupakan ucapan yang
telah terbiasa digunakan sehari-hari, dan dinilai sopan serta juga mengandung
doa memberi keselamatan sehari, bukan hanya selamat pagi, selamat siang, sore,
dan malam saja.
Jika bertemu atau berpapasan di jalan dan tidak memungkinkan untuk menyapa dan mengucap salam, maka tunjukkanlah muka manis dengan senyuman sebagai sapaan kepadanya.
2. Menyeimbangkan kebaikannya (an tashna’a ma’ahul ma’ruf)
Apabila tetangga kita
yang berbuat kebaikan terlebih dahulu, maka balaslah kebaikannya. Namun, jika
kita memulainya terlebih dulu, misalkan memberinya makanan yang diletakkan di
suatu wadah milik kita, maka jangan sampai ada harapan esok atau lusa si
tetangga itu gak hanya mengembalikan wadah tadi secara kosongan, melainkan
berharap wadah itu telah diisi hal lain. Karena jika itu terjadi, maka secara
otomatis kita tidak serta merta ikhlas memberinya.
Dan jika tetangga
kita ada masalah keuangan sementara kita punya rejeki yang lebih dari cukup
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, maka selayaknya kita bantu tetangga kita.
Mungkin mereka butuh biaya untuk anaknya untuk berobat, beli makan, memulai
usaha, dan hal-hal semacamnya.
3. Menjengungkanya ketika sakit (an ta’uudahuu idzaa maradha)
Jika tetangga kita
sakit, maka kita dianjurkan untuk membesuk atau menjenguknya. Baik saat sedang
di rumah sakit yang sekira jaraknya tak terlalu jauh dalam artian tidak dibawa
ke rumah sakit di luar kota, atau luar negeri dan ketika sakit di rumahnya
sendiri.
Karena terkadang, ada
tetangga bahkan kerabat dan keluarganya jika dikabarkan bahwa si A saat ini
sedang sakit namun dirawat di rumah dan tidak dibawa ke rumah sakit, biasanya
mereka menganggap sakit yang dideritanya tidak parah dan tidak perlu di jenguk.
Ini adalah anggapan yang salah. Menjenguk orang sakit tidak hanya ketika di rumah sakit saja, namun juga di rumahnya. Masalah buah tangan itu bukan kewajiban dan juga tidak ada yang menganjurkan. Yang terpenting adalah doa dan dukungan agar ia bisa semangat untuk melawan rasa sakitnya dan kembali sehat wal-afiyat seperti semula.
4. Turut bahagia atas kebahagiannya (tahni’ahu idzaa fariha)
Janganlah seorang muslim dengan muslim yang lain apalagi ini tetangga dengan tetangganya yang lain yang rumahnya bersebelahan atau berhadapan, saling hasad atau iri terhadap nikmat yang didapat tetangganya dan berharap agar nikmat itu segera hilang. Hendaklah ikut merasa bahagia dan senang atas keberhasilan tetangganya, ucapkanlah selamat kepadanya.
5. Menghiburnya ketika berduka (ta’ziyahu idzaa ushiiba)
Saat tetangga kita
sedang berduka entah karena anggota keluarganya kecelakaan, meninggal, atau
tertimpa musibah lainnya, kita dianjurkan untuk menghiburnya agar dia tidak terlalu
berlarut-larut dalam kesedihan.
6. Menjaga aibnya (an tastarro ‘awrootahu)
Dari Abu Hurairah
Nabi saw. Bersabda: “Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia,
melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak” (Shahih Muslim).
Berdasarkan hadis
tersebut, merahasiakan aib orang lain merupakan suatu hal yang harus dilakukan.
Pasalnya, meskipun manusia itu ciptaan Allah yang paling sempurna, namun kita
sendiri tidak pernah luput dari kesalahan-kesalahan dan kekurangan yang ada
pada diri masing-masing.
Maka dari itu, sudah seharusnya kita saling menutupi aib satu sama lain. Karena sejatinya, membongkar aib orang lain sama halnya dengan memakan bangkai saudaranya yang telah meninggal, sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat: 12.
7. Menjaga pandangan (alla tata’ammada an-nadzhra)
Hendaklah kita
sebagai umat muslim saling menundukkan pandangan terhadap aurat tetangga
meskipun ia adalah pembantu di rumah kita.
Sumber Materi :
1. Kitab Taisirul Kholaq Karya Hafidz Hasan Al-Mas’udi
2. Kitab Adaabul Jawaar Karya Majid bin Su'ud al-‘Ausyan


Komentar
Posting Komentar